Sejarah PWI, Berdiri pada 1946 dan Perannya dalam Perjalanan Pers Indonesia
![]() |
| Ilustrasi Persatuan Wartawan Indonesian (Foto: acehhitz.com) |
Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) merupakan organisasi profesi wartawan pertama dan tertua di Indonesia.
Organisasi ini berdiri pada 9 Februari 1946 di Surakarta, Jawa Tengah, pada masa awal revolusi fisik setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.
Lahirnya PWI memiliki kaitan erat dengan perjalanan pers Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
Jauh sebelum organisasi tersebut terbentuk, para wartawan telah menggunakan media massa sebagai sarana menyuarakan semangat kebangsaan dan melawan penjajahan Belanda.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, kebutuhan akan sebuah wadah yang dapat menyatukan para wartawan semakin kuat.
Para tokoh pers melihat pentingnya persatuan untuk mendukung upaya mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kekuatan asing.
Pada awal Februari 1946, sejumlah tokoh pers dari berbagai daerah berkumpul di Surakarta.
Pertemuan tersebut kemudian melahirkan kesepakatan untuk membentuk organisasi yang menjadi wadah tunggal bagi wartawan Indonesia. Organisasi itu diberi nama Persatuan Wartawan Indonesia atau PWI.
Dalam pembentukan awal tersebut, Mr. Sumanang dipercaya menjadi Ketua Umum pertama PWI.
Seiring perjalanan sejarahnya, PWI turut mengambil peran dalam perkembangan kehidupan pers dan demokrasi Indonesia.
Kiprahnya mencakup upaya mengawal demokrasi dan pembangunan melalui karya jurnalistik, mendorong profesionalisme wartawan, serta memperjuangkan hak dan perlindungan hukum bagi insan pers dalam menjalankan tugas.
PWI juga berperan dalam penyusunan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan mendorong lahirnya Dewan Pers sebagai lembaga independen yang memiliki peran penting dalam kehidupan pers nasional.
Tanggal 9 Februari kemudian memiliki makna penting bagi dunia jurnalistik Indonesia.
Hari lahir PWI diperingati setiap tahun dan bertepatan dengan Hari Pers Nasional (HPN), menjadi momentum untuk mengenang perjalanan pers sekaligus meneguhkan peran wartawan dalam kehidupan demokrasi Indonesia.
